Bapak Perang Gerilya Yang Terlupakan
Jenderal mayor purn.R Imam Sudja'i(25 September 1902 - 29 Januari 1953),Ex panglima Divisi VIII/ Soeropati,Jawa timur,guru besar perguruan silat "pencak organisasi" dan pencetus perang gerilya didaerah karesidenan Malang.
Jika kita menyebutkan siapa tokoh perang gerilya,pasti yang ada dalam benak kita adalah Jenderal Soedirman atau Jenderal A.H Nasution, yang menulis buku "Pokok-pokok Perang Gerilya" padahal sebelum kedua tokoh ini benar-benar mengaplikasikan perang gerilya dalam revolusi kemerdekaan sudah ada tokoh yang terlebih dahulu mempraktekkan perang gerilya,beliau adalah Jenderal mayor Imam Sudja'i, panglima Divisi VIII/Soeropati,Jawa timur.
Raden Imam Sudja'i lahir di Pohjentrek, Pasuruan pada tanggal 25 September 1902 dari keluarga Raden Niti Astro seorang tokoh Syarekat Islam setempat,ayah Imam Sudja'i,R.Niti Astro seorang priyayi muslim atau seorang ulama yang mempunyai kedudukan tinggi, kemudian keluarga Niti Astro pindah ke Lumajang,karena R.Niti Astro menjadi seorang penghulu disana.
Raden Imam Sudja'i nomer tiga dari kiri sebagai guru besar perguruan silat pencak organisasi,saat peringatan satu tahun perguruan tersebut.
Raden Imam Sudja'i nomer tiga dari kiri sebagai guru besar perguruan silat pencak organisasi,saat peringatan satu tahun perguruan tersebut.
Tumbuh dari keluarga yang taat beragama, sehingga membuat R.Imam Sudja'i menjadi seorang yang religius, sebagai seorang keluarga priyayi maka R.Imam Sudja'i pada tahun 1910 bersekolah di HIS, sekolah elite yang berbahasa Belanda yang hanya boleh dimasuki oleh anak-anak keluarga ningrat atau pejabat,lama sekolah di HIS adalah 7 tahun dan pada tahun 1917 R.Imam Sudja'i lulus kemudian melanjutkan ke BAS sekolah lanjutan pertama tehnik hingga lulus pada tahun 1924 dan bekerja di perusahaan pelayaran.
Karena sang ayah adalah seorang penghulu dan pengurus SI maka R.Imam Sudja'i banyak bergaul dengan para tokoh-tokoh SI yang merupakan organisasi masyarakat besar didirikan oleh HOS Tjokroaminoto, sebuah penghinaan yang mengusik rasa kebangsaan nya dari orang Belanda, membuat R.Imam Sudja'i berhenti bekerja dari perusahaan tersebut.
R.Imam Sudja'i pergi ke Bandung untuk menemui Eyang Kusumo yang masih keluarganya, disana dia banyak belajar ilmu silat dari eyang Kusumo yang kemudian pergi ke Garut untuk mengembangkan ilmu silatnya di berbagai perguruan silat disana, namun sayangnya rata-rata perguruan silat di Garut banyak yang bersaing tidak sehat sehingga mudah terpecah dan di adu domba oleh kolonial Belanda.
Raden Imam Sudja'i,nomer satu duduk sebelah kiri, bersama pendiri dan pengurus perguruan silat Setia Hati di Madiun, Ki Ngabehi Soeromihardjo(Eyang Suro).
Setelah cukup lama mengembara,R.Imam Sudja'i kembali ke Lumajang,disana dia banyak mengorganisir para pemuda untuk mendirikan sebuah perguruan silat yang diberi nama Pencak organisasi dan secara resmi berdiri pada tanggal 1 Agustus 1927, perguruan "Pencak organisasi" kemudian bergabung dengan SI yang kemudian menjadi sebuah partai politik non kooperatif yaitu PSII(partai Syarekat Islam Indonesia).
Selain perguruan silat " Pencak organisasi" bersama Sastrodikoro dan Nyono Prawoto yang dikenal sebagai tiga serangkai Lumajang mendirikan majalah "Lumbung Desa" serta membuat wadah kepanduan bagi para pemuda yaitu "SIAP" singkatan dari Syarekat Islam Afdeling Pandu dan R.Imam Sudja'i melepaskan masa lajang dengan menikahi Siti Salamah pada tahun 1933 dan dari pernikahan ini mereka di karuniai delapan orang anak.
Pada masa pendudukan Jepang R.Imam Sudja'i ikut dalam organisasi bentukan Jepang yaitu PUTERA dan ikut dalam pelatihan PETA. Setelah Jepang menyerah kalah serta Indonesia menyatakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, dibentuklah BKR sebagai wadah para bekas organisasi bersenjata bentukan Jepang seperti Peta,Heiho dll,
Tanggal 5 Oktober 1945,TKR berdiri sebagai kesatuan militer resmi dan R.Imam Sudja'i diangkat menjadi panglima Divisi VIII(kemudian menjadi Divisi VII) TKR membawahi karesidenan Malang yang meliputi Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang serta karesidenan Besuki dengan pangkat Jenderal mayor.
Sebenarnya Jenderal mayor R.Imam Sudja'i bisa ikut dalam pemilihan calon panglima TKR karena termasuk perwira senior namun beliau lebih memilih untuk ikut melawan Inggris pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya karena Inggris sangat membabi buta dalam aksi penyerbuan ke kota Surabaya, akhirnya pemilihan panglima dimenangkan oleh kolonel Sudirman yang didukung oleh kelompok PETA mengalahkan Letnan Jenderal Oerip Sumoharjo yang didukung kelompok KNIL.
Selama karir militernya yang singkat banyak prestasi yang telah di torehkan oleh Jenderal R.Imam Sudja'i antara lain seperti pemulangan tawanan sekutu, pengiriman beras untuk India dalam rangka menembus blokade yang dilakukan Belanda,pengamanan Istana negara di Jogjakarta dari kudeta yang dimotori oleh kelompok M.Yamin, Jenderal mayor Sudharsono dkk, kudeta ini adalah bentuk ketidak puasan mereka dengan ditandatanganinya perjanjian Linggarjati oleh perdana menteri Sutan Syahrir sehingga hampir memicu perang saudara dan mengulurkan tangan untuk bersedia menjadi tuan rumah sidang KNIP diwilayah Divisi VII Untung Suropati.
Perang gerilya ditahun 1945 belum dikenal dan dipraktekkan oleh para pejuang namun Jenderal mayor R.Imam Sudja'i sudah terlebih dahulu mempraktekkan gerilya ketika Belanda memasuki wilayah Malang dalam rangka agresi militer Belanda pertama, Panglima Divisi VII beserta segenap pasukan nya mengundurkan diri ke lereng gunung Semeru untuk mempersiapkan pasukan dan rakyat dalam perang gerilya dan perang semesta dalam melawan setiap agresi yang dilakukan oleh militer Belanda.
Perang Gerilya dan perang semesta baru dipraktekkan pada Desember 1948 yang kemudian dipertajam oleh Jenderal Nasution dalam Pokok-pokok Perang Gerilya sudah diaplikasikan terlebih dahulu di wilayah Divisi VII TKR/Untung Suropati pada tahun 1947 namun sayangnya perang gerilya dan perang semesta ini justru dianggap sebagai pengkhianatan oleh panglima daerah pertempuran V, Jenderal mayor profesor drg Moestopo dan perdana menteri Mr Amir Syarifuddin, sehingga seketika itu R.Imam Sudja'i dipanggil dan diberhentikan dari dinas kemiliteran, beliau tidak menerima keputusan pemberhentian dirinya dengan lapang dada padahal dari semua perwira Divisi VII yang di panggil hanya sang panglima yang diberhentikan secara tidak adil.
Namun saat agresi militer Belanda kedua, konsep dan gagasan Jenderal mayor R.Imam Sudjai tentang perang gerilya serta perang semesta yang terbukti efektif akhirnya dipraktekkan secara luas, sekalipun sudah tidak ikut terlibat langsung, namun beliau senang konsep perang gerilya dan perang semesta nya berhasil membuat Belanda kewalahan saat menjalankan agresinya di wilayah karesidenan Malang serta
makam Jenderal mayor purn.R.Imam Sudja'i di pemakaman umum Jogoyudan, Lumajang yang sedang di ziarahi oleh para pengurus Pramuka,karena beliau sendiri adalah perintis organisasi kepanduan di Lumajang.
Setelah berhenti dari dinas kemiliteran, R.Imam Sudja'i ikut kakaknya di Rejotangan, Tulungagung untuk bekerja serabutan demi menghidupi keluarga nya bahkan sangat ironis seorang mantan perwira tinggi menjadi kusir dokar karena tidak mendapatkan uang pensiun sebagai penghargaan atas dedikasinya sebagai seorang yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan.
R.Imam Sudja'i kembali ke Lumajang setelah pengakuan kedaulatan yang di tandatangani dalam perjanjian KMB di Den Haag, negeri Belanda, beliau aktif di kemasyarakatan terutama di perguruan silat pencak organisasi yang didirikan nya pada tahun 1927.
Pada tanggal 29 Januari 1953,R.Imam Sudja'i secara mendadak meninggal dunia,tidak ada upacara penghormatan atau kemiliteran, beliau dimakamkan sebagai orang biasa dipemakaman umum Jogoyudan Lumajang, karena tidak ada uang pensiun dari sang Suami,ibu Siti Salamah bekerja apa saja demi menghidupi kedelapan anaknya.
Ibu Siti Salamah pindah ke Tulungagung untuk menjadi seorang guru dan berjualan nasi sebagai tambahan penghasilan,salah satu putranya yang bernama Imam Hidayat menjadi Tentara dengan pangkat Prajurit Dua demi bisa membantu ibu dan adik-adiknya yang masih kecil, saat berpangkat Sersan,Imam Hidayat memberanikan diri untuk bertemu dengan jenderal R.Soemitro yang dulu menjadi ajudan sang ayah di Divisi VII TKR/Untung Suropati dan menanyakan apakah sang ayahnya itu benar pengkhianat.
Jenderal R.Sumitro terkejut dan dengan penuh haru dirangkulnya Sersan Imam Hidayat yang merupakan anak atasannya dahulu, jenderal R.Sumitro berkata bahwa Jenderal mayor R.Imam Sudja'i bukanlah pengkhianat bahkan atas nama ABRI dan pemerintah,R.Soemitro meminta maaf atas kelalaian serta kekhilafahan dengan melupakan jasa-jasa ayah Sersan Imam Hidayat.
Akhirnya Jenderal R.Soemitro memanggil ibu Siti Salamah ke Jakarta dan memberikan mobil dan rumah kepada beliau yang selama ini tidak mempunyai tempat tinggal yang layak,serta mengurus pensiunan sang suami.Sk pensiun R.Imam Sudja'i turun pada tahun 1968,dalam Sk pensiun itu disebutkan bahwa pangkat R.Imam Sudja'i bukan lagi Jenderal mayor tetapi turun satu tingkat menjadi kolonel,Sk pembayaran pensiun yang tertunda tujuh tahun dari 1968 ke 1975.
Dengan adanya Sk pensiun ini akhirnya pemerintah dalam hal ini ABRI mengakui peran Kolonel purn R.Imam Sudja'i sebagai seorang yang turut membesarkan organisasi militer itu.
Selesai
Disarikan dari buku Mayor Jenderal Imam Sudja'i : Sumbangsih untuk pergerakan rakyat dan revolusi Indonesia karya Mansur Hidayat dan berbagai sumber lainnya.
Komentar
Posting Komentar