Gugur sebagai Bhayangkari sejati

Patung Mathilda Lamere Batlayeri didepan Bandara Mathilda Batlayeri, Saumlaki, Kabupaten Tanimbar, Provinsi Maluku.

         Jika kita ke Saumlaki wilayah kabupaten Kepulauan Tanimbar akan menjumpai monumen didepan Bandara kota tersebut, monumen yang menggambarkan sosok seorang wanita dengan tangan kanan memegang senjata api teracung keatas dan sebelah kiri menggendong anaknya yang masih kecil, berdiri gagah dan tegar seolah sedang menunjukkan keberanian nya.
            Dan patung itu menggambarkan sosok Bhayangkari bernama Mathilda Lamere Batlayeri yang gugur bersama lima orang polisi beserta tiga orang anaknya termasuk anak dalam kandungan nya saat menghadapi gerombolan Kesatuan Rakyat Yang Tertindas (KRYT) pimpinan pecatan Letnan dua Ibnu Hajar di Kalimantan Selatan.
Bandara Mathilda Batlayeri dikota Saumlaki, Kabupaten kepulauan Tanimbar.
         
             Pada tanggal 23 September 1953 di asrama polisi desa Kurau, Kabupaten Tanah Laut yang hanya di jaga oleh lima orang polisi di serbu oleh gerombolan KRYT atau DI/TII yang berjumlah 50 orang yang dipimpin Suwardi,konon dia itu kebal senjata api dan senjata tajam. Mathilda Batlayeri yang saat itu sedang mengandung anak yang ke empat sedang ditinggalkan  oleh Agen Polisi tingkat II Andrianus Batlayeri untuk mengambil air di sebuah sumur yang lumayan jauh dari asrama polisi segera mengambil Mauser untuk membantu rekan-rekan suaminya menghadapi para teroris tersebut.

           Suwardi sang pimpinan gerombolan yang katanya kebal justru tertembak duluan dan langsung tewas, pertempuran yang tidak seimbang itu telah mengakibatkan lima orang polisi gugur demikian juga dengan ibu Mathilda Batlayeri ikut gugur bersama ketiga anaknya dan janin dalam kandungannya.
            Gerombolan teroris itu kalap hingga membakar asrama polisi sehingga jenazah sang Srikandi dari Tanimbar ikut terbakar bersama ketiga anaknya
Ibnu Hajar alias Haderi alias Usman, pecatan Letnan dua TNI yang mengobarkan pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan.

         Untuk mengenang keberanian sang Bhayangkari, maka nama Mathilda Batlayeri dijadikan sebagai nama jalan di pos polisi tempat beliau gugur bersama ketiga anaknya di desa kurau, kemudian Aula polres Tanah Laut dan kolam pemancingan serta sebagai nama bandara di tanah leluhurnya di Saumlaki.
                 Sebuah monumen dibangun untuk mengenang keberanian Mathilda Lamere Batlayeri,kelima polisi rekan suaminya dan ketiga anaknya ditempat mereka gugur,di monumen itu terpahat prasasti yang berbunyi:
"Kepada penerusku.....aku Bhayangkari dan anak-anakku yang terkapar di bumi Kurau yang sepi.
Semoga pahatan pengabdianku memberi arti bagi Ibu Pertiwi"
                  Kurau,23 September 1953
                      Mathilda Batlayeri.
          Kata-kata yang sama tergores di monumen depan Bandara Mathilda Batlayeri. Bersama ketiga anaknya Alex,Max dan Lodewyk Batlayeri, ibu Mathilda Lamere Batlayeri dimakamkan di TMP kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, kemudian beliau diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional karena gugur dalam rangka menumpas para teroris yang menamakan dirinya  "KRYT" alias DI/TII pimpinan pecatan Letnan dua Ibnu Hajar.
Pecatan Letnan dua Ibnu Hajar setelah tertangkap diajukan ke pengadilan militer untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan akhirnya di jatuhkan hukuman mati pada tahun 1962.
     
           Petualangan pecatan Letnan dua Ibnu Hajar harus berakhir, si gembong teroris yang banyak menelan korban di Kalimantan Selatan berhasil di bekuk dan dihadapkan ke pengadilan militer di Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya serta dinyatakan bersalah dan divonis dengan hukuman mati.
           Pecatan Letnan dua Ibnu Hajar akhirnya mati sebagai teroris dihadapan regu tembak yang menghadiahkan timah panas tepat pada jantungnya pada tahun 1962 menyusul Kartosuwiryo yang juga sudah di eksekusi mati terlebih dahulu disebuah tempat di kepulauan seribu, jauh dari tanah kelahirannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kereta Paksi Naga Liman: Simbol Tiga Unsur Alam