Letnan Kolonel Mochamad Srudji
Monumen Letkol Mochamad Srudji didepan kantor Bupati Jember
Mochamad Srudji lahir di Bangkalan Madura pada tanggal 1 Februari 1915 dari pasangan bapak Haji Hasan Srudji dan ibu Hajjah Amni.pendidikan yang pernah ditempuh adalah HIS, sekolah dasar berbahasa Belanda yang lama pendidikan nya tujuh tahun kemudian melanjutkan ke sekolah pertukangan,Ambacts Leergang, yang ditempuh selama tiga tahun, sekolah ini mencetak tukang listrik,tukang mebel,tukang bangunan dll.
Mochamad Srudji nomer dua dari kiri adalah anak kedua dari tujuh bersaudara,dalam foto ini ketiga saudaranya yang lain tidak ikut berfoto.
Setelah menamatkan pendidikannya,Srudji muda bekerja sebagai pegawai jawatan kesehatan yang bertugas menjadi mantri Malaria di RS Kreongan, Jember, yang kini menjadi RS Paru.
Karir militernya dimulai ketika masa pendudukan Jepang, Mochamad Srudji menjadi Chuudanco (komandan kompi) setelah lulus dari pendidikan PETA di Bogor pada akhir tahun 1943 yang masih satu angkatan dengan Ahmad Yani dan Suharto. Srudji menjadi Chuudanco wilayah karesidenan Besuki yang meliputi Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi.
Bertugas pada Batalyon 1 Kencong dibawah
Daidanco Soediro Suwito,saat kemerdekaan Chuudanco Mochamad Srudji ikut berperan dalam pembentukan BKR kemudian TKR diwilayah Besuki
Pada bulan September 1945 hingga Desember, secara berturut-turut diangkat sebagai komandan batalyon 1, Resimen IV, Divisi VII yang berdomisili di Kencong kabupaten Jember.
Letnan Kolonel Anumerta Mochamad Srudji (1 Februari 1915 - 8 Februari 1949)gugur di Karang Kedawung saat melawan Belanda.
Kemudian Mei hingga Oktober 1948 Mochamad Srudji menjadi komandan Resimen 40/ Damarwulan dan atas keputusan Menteri pertahanan RI No A/532/42, pada tanggal 25 Oktober 1948, Resimen 40/Damarawulan dilebur dan diubah menjadi Brigade III/ Damarwulan dan masuk pada Divisi I Jawa timur.
Mayor Mochamad Srudji dan pasukannya sempat terpencar dan bisa berkumpul kembali didaerah Blitar, mereka semua bertahan disana selama beberapa bulan. Saat agresi militer Belanda kedua, pasukan Brigade III Damarwulan yang dipimpin oleh Mayor Mochamad Srudji melakukan wingate (penyusupan melalui garis belakang pertahanan musuh) melintasi malang, Lumajang, untuk memasuki kembali wilayah Jember yang telah diduduki oleh Belanda.
Selama 51 hari perjalanan sejauh 500km banyak melakukan kontak fisik dengan pasukan Belanda dan Mayor Mochamad Srudji berhasil lolos hingga berhasil memasuki wilayah Jember, Belanda rupanya pusing dengan taktik penyusupan yang dilakukan oleh para pasukan Brigade III Damarwulan yang dipimpin oleh Mayor Mochamad Srudji, sehingga mereka menyebarkan mata-matanya keberbagai tempat.
Sampailah Mayor Mochamad Srudji di Desa Karang Kedawung, Kecamatan Mumbulsari, Jember, pada tanggal 8 Februari 1949 dengan para perwira dan 27 orang lainnya diadakan rapat koordinasi tiba-tiba pasukan Belanda datang mengepung, mengetahui adanya pengepungan tersebut, Mayor Mochamad Srudji segera beranjak untuk menuju pasukan nya tetapi tertembak oleh sebutir peluru di bahunya hingga berlumuran darah.
Mengetahui sahabatnya terluka dan masih baru saja sembuh maka dr Soebandi (yang namanya kini diabadikan sebagai RS dr Soebandi Jember) segera di papahnya untuk membawanya ke pasukan, namun malang dr Soebandi tertembak di bagian kepala dan seketika itu gugur
Letnan kolonel anumerta Mochamad Srudji bersama staf dan pasukan Brigade III/Damarwulan.
Seketika itu Mayor Mochamad Srudji melawan pasukan Belanda yang mengepung nya dengan hanya bersenjata sepucuk pistol,tak peduli banyak peluru menembus tubuh nya, bersama ke 27 rekannya terus melawan hingga peluru penghabisan dan masih sempat menghajar pasukan Belanda dengan pistol kosong.
Akhirnya Mayor Mochamad Srudji, gugur sebagai ksatria bersama 19 orang rekannya termasuk mayor dr Soebandi dengan sadis tubuh mayor Mochamad Srudji yang tidak bernyawa dan penuh berlumuran darah diseret dengan menggunakan truk oleh Belanda ke kota Jember, belum cukup sampai disitu jenazah perwira yang baru berusia 34 tahun itu dicungkil matanya dan digantung didepan sebuah hotel untuk dipamerkan selama tiga hari agar rakyat takut melawan Belanda.
Setelah tiga hari diperlakukan tidak manusiawi, Seorang warga Jember meminta jenazah Mayor Mochamad Srudji diturunkan dan selanjutnya akan di makamkan dengan layak, pihak Belanda pun mengijinkan,Jenazah Mayor Mochamad Srudji dimakamkan di TPU Tunjung, kelurahan Patrang, kota Jember dengan diiringi banyak warga masyarakat Jember.
(Foto arsip keluarga)
Mayor Mochamad Srudji di anugrahi bintang gerilya dan kenaikan pangkat secara anumerta oleh Presiden Ir Soekarno pada tanggal 5 Oktober 1949 dan bintang sakti oleh presiden Soeharto pada Maret 1975 serta bintang Mahaputra utama sesuai dengan keputusan presiden nomor 91/TK/2016 bertanggal 3 November 2017 yang ditandatangani oleh Presiden RI Ir H.Joko Widodo dijakarta yang di terima almarhum dengan diwakili oleh putri bungsunya,Puji Rejekiwati Srudji di istana negara bersama dengan alm Mayjend purnawirawan Andi Mattalatta.
Ibu Puji Rejekiwati Srudji,putri bungsu Letkol Anumerta Mochamad Srudji, mewakili sang ayah menerima penghargaan bintang Mahaputra utama yang diserahkan oleh presiden Joko Widodo di Istana negara, Jakarta.
Mochamad Srudji menikah dengan Mas Roro Rukmini dikaruniai empat orang buah hati yaitu Drs H Sucahyo, Drs H Supomo, Sudi Astui dan Puji Rejekiwati dan akan diusulkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah daerah kabupaten Jember sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas segenap jasa serta pengorbanan bagi bangsa dan negara dalam mempertahankan kemerdekaan.
Makam Letkol Anumerta Mochamad Srudji, komandan Brigade III/Damarwulan di TPU Tunjung, kecamatan Patrang,kota Jember.
Selesai
Sumber: Buku "Sang Patriot", "Letkol Moch.Srudji, Jember masa perang kemerdekaan" karya G. Indro Mertowijoyo(2015) dan berbagai sumber lainnya.
Komentar
Posting Komentar