Tenggelam nya KRI 408 Gadjah Mada

Kapten Laut Anumerta Samadikun, komandan KRI 408 Gadjah Mada yang ikut gugur bersama tenggelam nya kapal tersebut,foto diambil dari buku "Pahlawan Samudera Kapten Samadikun".
             Bulan Januari tepatnya tanggal 15 selalu diperingati sebagai hari Dharma Samudera yaitu memperingati peristiwa pertempuran laut Aru yang berakibat gugurnya Komodor Yosaphat Soedarso dan Kapten Wiratno bersama tenggelam nya KRI Matjan Tutul.
              Padahal ditanggal 5 Januari 1947, dua puluh lima tahun sebelumnya ada peristiwa yang tidak kalah heroiknya dan sejarah mencatatnya sebagai pertempuran laut pertama yang dilakukan oleh ALRI melawan AL Belanda diperairan Cirebon dengan kekuatan yang tidak seimbang
KRI 408 Gadjah Mada saat bersandar di pelabuhan Cirebon.
           Pada tanggal 5 Januari 1947 diadakan latihan dilaut yang dilaksanakan oleh AL dan AD diperairan Cirebon,KRI 408 Gadjah Mada yang merupakan kapal kayu jenis Coaster dengan berat 150 ton dipersenjatai senapan berat dengan Letnan satu Samadikun sebagai komandan kapal,KRI Gadjah Mada dijadikan sebagai kapal pimpinan ALRI, Pangkalan Laut III/Cirebon.
             Latihan yang di komandoi Lettu Samadikun diikuti oleh kapal Patroli P-8 yang dipimpin Lettu Sukamto, Kapal patroli P-9 yang dipimpin Lettu Supomo, Kapal tunda Semar yang dipimpin oleh Lettu Toto PS dan Kapal Tunda Antaredja, dengan beriringan pada pukul 06.00 kelima kapal ini menuju ke utara perairan Cirebon.
                Sekitar 7 km dari pantai, iring-iringan Kapal ALRI bertemu dengan Kapal Kortaener milik AL Belanda yang sedang berpatroli dilaut Jawa, dari kapal Kortaener mengeluarkan peringatan agar kelima kapal itu segera berhenti, namun tidak digubris  dan terjadilah baku tembak dengan persenjataan yang seimbang.
              Lettu Samadikun memerintahkan ABK KRI Gadjah Mada untuk melawan dengan senjata berat sekalipun berhadapan dengan meriam kapal kaliber berat, KRI Gadjah Mada sengaja melawan sendirian agar kapal-kapal yang lainnya bisa menyelamatkan diri dari serangan kapal perang Belanda untuk kembali ke pangkalan.
             Akhirnya peluru meriam kapal Belanda mengenai ruang mesin KRI Gadjah Mada, sehingga meledak dan perlahan-lahan kapal itu tenggelam kedasar laut, tetapi sebelum benar-benar tenggelam senapan berat masih menyalak sebagai tanda perlawanan hingga peluru terakhir, KRI Gadjah Mada dan sang komandan kapal, Lettu Samadikun telah melawan secara gagah berani sekalipun pihak lawan lebih kuat.
               Jenazah Lettu Samadikun berhasil ditemukan pada tanggal 7 Januari 1947, kemudian dimakamkan secara kehormatan di TMP Kesenden Cirebon, pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Kapten, untuk mengenang jasa-jasanya nama Kapten anumerta Samadikun diabadikan menjadi nama jalan di kota Cirebon yang terletak antara jalan Sisingamangaraja dengan Jalan Diponegoro, selain itu diabadikan pula sebagai nama KRI pada tahun 1970 yaitu KRI 341 Samadikun yang pada tahun 1981 mengejar dan hampir menghancurkan kapal selam asing.
Makam Kapten Laut Anumerta Samadikun di TMP Kesenden kota Cirebon.
                        Selesai.
Sumber: Buku "Pahlawan Samudera Kapten Samadikun",detikcom dan berbagai sumber lainnya
    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kereta Paksi Naga Liman: Simbol Tiga Unsur Alam